Indonesia kini menjadi salah satu negara yang terdistribusi narkoba secara mulus dari berbagai negara. Beragam jenis narkoba impor diselundupkan masuk melalui jalur darat,laut hingga jalur udara. Hal tersebut tentu saja mengacu juga dengan tingkat permintaan masyarakat Indonesia yang tinggi untuk memenuhi hasratnya menggunakan barang haram tersebut.

Data Polri dan BNN menyebutkan ada 26.678 kasus narkoba pada tahun 2010 dan terus meningkat menjadi 40.897 kasus pada tahun 2016. Sejak tahun 2011 hingga tahun 2015, rata-rata tersangka narkoba tumbuh 9,35 persen per tahun. Pada tahun 2011, jumlahnya tercatat 35.640 orang, dan meningkat menjadi 51.332 orang pada tahun 2015.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif. Berdasarkan Undang-Undang No. 35 tahun 2009, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Narkotika dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, dan menghilangkan rasa nyeri. Bahkan pengguna narkotika tidak dapat merasakan apa-apa karena narkotika memengaruhi susunan saraf. Narkotika juga dapat menimbulkan ketergantungan. Jenis-jenis narkotika yaitu tanaman papaver, opium, morfin, kokain, ganja.

Menurut UU RI No.35/2009, Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari empat golongan, yaitu :

a. Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.

b. Golongan II
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine.

c. Golongan III
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.

d. Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM).

Beberapa jenis obat yang disebutkan di atas memang digunakan dalam ilmu kedokteran, tetapi harus dalam batas pengawasan dokter dan tak boleh digunakan secara sembarangan orang karena dapat membahayakan organ tubuh bahkan kematian.

Sumber: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3045767/perbedaan-antara-narkotika-dan-psikotropika